(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian III)

Aku selalu bahagia setiap kau meluangkan waktu untuk mendengar ceritaku.

Engkau selalu memberi dukungan dan arahan.

Bahkan setiap perkataan yang kau sampaikan masih terekam jelas dalam ingatanku.


Banyak hal yang membuatku kagum terhadapnya. Mungkin ia tak menyadari namun aku adalah seorang yang memperhatikan detail-detail kecil dalam memahami sifat seseorang. Berkali-kali ia menunjukkan kesederhaan dan kepedulian yang tulus.

Aku masih ingat, saat SMA, aku mengagumi seorang kakak kelas. Dia pecinta film. Aku pun mempelajari hal-hal yang dia suka. Maklum, masih ABG. Aku masih sangat labil. Aku masih ingat judul film yang menjadi favorit kakak kelasku. Aku pun sibuk mengganggunya lagi untuk berkonsultasi tentang seluk beluk film itu. Dia tetap mendengarkan dan memberi jawaban, seperti biasa, hampir selalu dengan solusi.

“Oh iya, nih. Temen gua ada tuh filmnya. Nanti, ya gua pinjemin..”, jelasnya singkat. Aku sangat senang.

Keesokan harinya, kita kembali bertemu. Aku sedikit takjub ketika kau sudah menyodorkan film itu di hadapanku.

“Nih, filmnya...", katanya singkat.

“Yey.. makasih, yaaa...” nadaku riang.

Aku tak bertanya banyak saat itu. Aku tak peduli pada siapa dia meminjamnya dan bagaimana dia mendapatkannya. Aku hanya sibuk memikirkan apa yang akan  ku bahas dengan kakak kelasku setelah menonton film ini. Benar-benar egois, ya?!

Dua hari setelahnya, dia menanyakan kapan aku akan mengembalikan film itu. Aku hanya menjawab sekenanya “Besok, ya...”. Aku bahkan sempat beberapa hari lupa sebelum akhirnya benar-benar mengembalikannya. Itu pun karena dia mengatakan bahwa temannya sudah meminta kembali film itu. Hah...

Kalian tau apa yang membuatku tercengang? Dia belum sempat menontonnya. Dia harus segera mengembalikannya. Sederhana memang tapi bagiku itu hal yang menarik.

Jujur aku merasa tidak enak. Ia mendahulukan aku padahal dia menyukai film dan begitu tertarik untuk menontonnya. Faktanya aku menonton film itu hanya karena seniorku, bukan benar-benar ingin tahu. Setelah aku menyukai film, aku baru memahaminya. Astaga.. Aku sedikit merasa bodoh.

Tahun 2011, aku pun memulai bangku perkuliahan. Usai kepergiannya untuk kuliah dan tinggal jauh dari rumah, aku pun mengikuti jejaknya. Aku memutuskan pergi jauh dari pulau tempatku tinggal. Saat itu, aku hanya tak ingin hidupku diwarnai kecemasan. Aku berharap dapat menjalani hari yang baru.

Namun, fakta berkata lain. Aku justru semakin merindukannya. Aku ingin berbicara dengannya namun aku diselimuti rasa takut. Banyak hal yang terjadi dan aku tak tau harus bicara dengan siapa. Hingga akhirnya, suatu hari, pertemuanku dengannya terjadi tanpa direncanakan.

Saat itu aku sedang menikmati libur perkuliahan. Kami tak sengaja berpapasan dalam suatu kegiatan. Ia pun segera menyapaku dengan senyum hangat khas miliknya.

“Gimana kabar kuliahnya, Dek?” tanyanya dengan senyum. Ia bersikap seolah sedang berbicara dengan  anak-anak.

Sial.. Apa aku masih terlihat seperti anak-anak?’, gumamku.

“Puji Tuhan, lancar, Bang..” jawabku sopan.

“Kuliahnya jadi ambil jurusan apa, Dek?” tanyanya ramah.

“Sastra Indonesia sih, Bang.. Yah, enggak ilmu eksak, lah..”, kataku merendah.

“Loh, emang kenapa?! Hebat dong, Dek. Sastra Indonesia kan susah tau..”, katanya dengan nada meyakinkan.

“Tapi banyak yang bilang aneh pas ambil jurusan ini.. Prospek ke depannya juga diraguin mereka...”, kataku lemah.

“Ah, enggak, ah! Siapa bilang! Susah tau jurusan lo. Gua aja masih nggak paham sampe sekarang.. Apa tuh namanya, ya.. Imbuhan.. terus......”, kau terus melanjutkan ingatan-ingatanmu.

Aku sibuk memperhatikan caramu mengungkapkan isi pikiranmu yang jujur tanpa dibuat-buat. Rasanya menyenangkan. Kau selalu pandai dalam memilih kata. Kau pun tak lupa menyemangatiku untuk rajin menjalani perkuliahan dan juga harus memiliki target. Kau bilang tidak usah mengambil pusing apapun perkataan orang lain. Kata-katamu yang sederhana itu berhasil menghidupkan semangatku. Terima kasih. Sekali lagi kau membuatku tersenyum.

Jujur saja, sejak kami tak lagi saling berkomunikasi, aku tidak tau harus berbagi dengan siapa. Perkuliahanku memang berjalan dengan baik namun banyak komentar tidak menyenangkan dari sekitarku saat aku memilih jurusan ini. Banyak yang meragukan. Tentu saja aku tidak marah karena memberikan pendapat adalah hak bagi setiap orang. Namun, ada saatnya aku tidak siap menghadapinya. Terlebih karena berbagai masalah lainnya yang tak mampu ku ungkapkan. Ada saatnya aku menjadi lemah. Pertemuan singkatku dengannya pun membantuku untuk kembali bernafas lega. Terima kasih sudah menolongku. Perkataanmu yang tulus itu selalu berhasil menenangkan.

Dulu, aku berharap kepergianku dapat membuatku sembuh dan benar-benar melupakan perasaan ini. Aku tidak ingin terus merasa gelisah. Aku tak ingin terus menyiksa diri. Aku pun memantapkan langkah hingga akhirnya tiba di kota yang baru. Aku menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa dan anak kos. Banyak petualangan seru yang terjadi. Aku juga bertemu dengan orang-orang baru yang memberiku angin segar. Aku menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan dan bersosialisasi dengan lebih banyak orang. Sayangnya, itu semua tak cukup membuatku benar-benar melupakannya.

Waktu itu, handphone tidak begitu penting dalam duniaku. Aku masih lebih memilih warnet untuk berselancar. Sialnya, setiap kali aku mengunjungi situs jejaring sosial, aku masih sibuk mencari keberadaanmu. Tahun awal perkuliahan menjadi langkah yang berat bagiku. Sejujurnya banyak yang ingin ku bagikan. Aku membutuhkan dukunganmu yang dapat menghidupkan semangatku. Sayangnya, semua sudah berubah. Aku hanya bisa membacamu dari jauh.

Hingga akhirnya, aku pun melihat kabar itu. Sebuah postingan yang membuatku tak berkutik. Terpajang potret seorang gadis yang tersenyum manis berdiri di sisi kanan seorang pria yang tersenyum hangat. Aku melihat kebahagiaan dalam sorot mata mereka. Aku tau ini akan menjadi kenyataan. Dengan bangga, kau mengumumkan gadis yang berhasil merebut perhatianmu pada dunia. Aku tak mampu berkata. Mataku pilu hingga tak sanggup lagi menahan linangan air mata.

Bodoh memang. Seharusnya aku bahagia. Bukankah dulu aku yang menyarankan? Tanpa pikir panjang ku ucapkan kepadamu untuk mencari seorang kekasih di sana agar engkau tidak merasa kesepian. Akhirnya, kau pun benar-benar melakukannya. Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk menenangkan diri. Mungkin iya, aku terkesan sangat kekanakan dan sedikit berlebihan. But guys, truly, no words can against your true feeling.

Waktu pun terus berlalu hingga hari berganti menjadi tahun. Kami semakin jauh namun aku tak juga berhasil memadamkannya. Aku pun tersadar mengapa perasaanku begitu kuat. Aku jatuh hati pada setiap hal-hal kecil yang ia lakukan. Kejujuran dan ketulusan dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Tindakan sederhana yang tak hanya menolongku namun juga menenangkan jiwaku hingga akhirnya mampu menguasai hatiku seutuhnya. Aku tak menyangkal. Pada akhirnya, aku pun menyadari di mana tempatku berpijak.



* * * * * * * * * *
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Catatan) Sendiri

(Kisah) Pagi Dunia

(Puisi) AKU