Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

(Puisi) Hanya Engkau

Hanya Engkau Oleh : Sonya Pandiangan Jika suka yang kau ingin, bukan, bukan aku tempatnya Jika bahagia yang kau harap, bukan, bukan aku tempatnya Jika tangis, marah, emosi yang kau cari, iya, akulah tempatnya Jika duka, luka, bahkan dendam yang kau mau, iya, akulah orangnya Bukan, aku bukan yang sempurna Bukan, aku bukan yang indah seperti khayalmu atau mereka Aku manusia, aku punya sisi kejam, busuk, bahkan bejat Aku punya topeng, sering munafik, tak segan menusuk dan mengkhianat Aku, iya akulah orangnya Aku manusia itu, yang gelap, cacat, dan hina Aku manusia itu, yang mengharap dan percaya bukan kepada manusia Aku manusia  itu, yang menolak untuk sekadar bersandar walau sejenak Satu yang pasti, bukan sekedar takhyul atau dongeng semata Jalan tetap dan benar hanya satu, jauh dari munafik, jauh dari kejijikan dunia Tempat berteduh, tempat bersandar, hanya Tuhan, benar sungguh hanya Tuhan Hanya Dia, oleh Dia, karena Dia manusia ada, tercipta, bahkan hidup ...

(Puisi) Tempat Perhentian

Tempat Perhentian Oleh : Sonya A. Pandiangan  Seperti serpih yang tertiup angin Terjatuh di berbagai tempat lalu tertiup lagi Terbawa tak tentu arah Terus tertiup jauh dan semakin jauh Satu tempat lalu tertiup Dua tempat kemudian jenuh Akankah tertiup lagi? Akankah terus mencari? Saat mata tertutup tempat itu ada Dimana? Kapan? Tak ada jawab, sepi Dan lagi menutup mata yakinkan untuk percaya Ya, tempat indah itu sungguh ada Medan, 2015

(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian II)

Berbicara tentang pengalaman manis, begitu banyak hal indah yang terjadi dalam kebersamaanku dengannya. Tak banyak memang yang mampu ku ucap namun semua begitu jelas ku rasa. Hubungan kami memang sebatas pertemanan biasa, namun bisa dibilang kami cukup dekat saat itu. Dia adalah sosok pria yang terkesan dingin, karena dia lebih sering diam dan irit dalam berkata. Dia juga memiliki ekspresi yang unik. Dia lebih sering mempertahankan wajah datarnya dalam kondisi apapun. Hal ini bukan berarti dia tidak ramah. Dia sangat ramah, bahkan pribadinya begitu hangat bagi orang-orang di sekitarnya. Dia seorang penyayang, senang memerhatikan, dan peduli terhadap masalah yang dialami orang-orang di sekitarnya. Dia tidak segan untuk membagi-bagikan kasihnya. Bagiku, itulah kelemahannya. Dia terlalu baik. Karena kepribadiannya itu, semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya. Terlebih lagi dia memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Aku belum pernah bertemu dengan lela...

(Puisi) AKU

AKU Oleh : Sonya Pandiangan Aku harap aku bukan aku.. Aku bukan aku yang terbuang.. Aku bukan aku yang terus hidup dalam bayang.. Aku bukan aku yang terus diam gelap.. Aku harap aku bukan aku.. Aku bukan aku yang terus teriris pedih dalam pesimis.. Aku bukan aku yang terus membatin pilu.. Aku bukan aku yang rindu akan indahnya nyata.. Namun, Aku harap aku adalah aku.. Aku adalah aku yang berani bangkit.. Aku adalah aku yang akan merubah hidup.. Aku adalah aku yang akan meraih segala harap.. Karena aku adalah aku.. Dan aku yakin aku akan menjadi aku... Medan, 2015

(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian I)

Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini mulai ada, lalu tumbuh, kemudian berkembang. Semakin aku mengenalnya, semakin aku merasakan perasaan yang ganjil ini. Aku merasa bahagia. Aku mampu tersenyum, bahkan merasa terlindungi, namun di sisi lain aku juga merasakan takut, resah, serta perih yang kerap kali muncul secara bergantian. Kehadirannya memiliki arti tersendiri dalam perjalananku, seperti sumber air yang terus mengalir memberi kehidupan, walau terkadang, seperti obat pahit yang membuatku  terus ketergantungan. Aku seperti seorang penderita penyakit kronis. Tanpa obat itu, bahkan sedetikpun, aku tak akan mampu melangkah dan melalui hidupku dengan tegap dan berani. Dia adalah alunan lagu yang berdendang merdu di telingaku. Dia juga adalah khayal dalam setiap imajinasiku. Dia adalah nama yang selalu ingin ku ucap setiap aku berbicara. Dia adalah hembusan nafas dari setiap detak jantungku. Ia satu di dalamku, menyatu dalam diriku, menyatu dalam jiwaku.  ...

(Puisi) Selisik Rasa

Selisik Rasa Oleh : Sonya Pandiangan   Mungkin mereka pikir aku gila Mungkin mereka pikir aku sungguh bodoh Namun, satu yang pasti, hatiku tak pernah mengucap dusta Ku katakan apa yang ku rasa Ku lakukan seperti yang hatiku katakan Seperti saat aku mencintaimu Seperti saat aku terus menunggu kehadiranmu Semua persis sama, tanpa reka, seperti apa yang sebenarnya ku rasa Mereka bilang malam itu gelap, namun bagiku terang Karena kau adalah bintang dengan cahya benderang Mereka bilang siang itu terik, namun bagiku sejuk Karena kau adalah hembusan angin yang membawa kesejukan Aku tau aku rapuh, sebagai Hawa yang raganya lemah tanpa hadirnya Adam Aku tau bahkan kakiku pun tak mampu menyokong tubuhku Namun, aku tau perasaan ini begitu kuat, tak kan pernah rapuh Selama kau ada, aku ada, bahkan sampai kita tiada Rasa ini akan terus ada, abadi, walau jarang terucap Medan, 25 November 2011