(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian I)

Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini mulai ada, lalu tumbuh, kemudian berkembang. Semakin aku mengenalnya, semakin aku merasakan perasaan yang ganjil ini. Aku merasa bahagia. Aku mampu tersenyum, bahkan merasa terlindungi, namun di sisi lain aku juga merasakan takut, resah, serta perih yang kerap kali muncul secara bergantian.


Kehadirannya memiliki arti tersendiri dalam perjalananku, seperti sumber air yang terus mengalir memberi kehidupan, walau terkadang, seperti obat pahit yang membuatku  terus ketergantungan. Aku seperti seorang penderita penyakit kronis. Tanpa obat itu, bahkan sedetikpun, aku tak akan mampu melangkah dan melalui hidupku dengan tegap dan berani.



Dia adalah alunan lagu yang berdendang merdu di telingaku. Dia juga adalah khayal dalam setiap imajinasiku. Dia adalah nama yang selalu ingin ku ucap setiap aku berbicara. Dia adalah hembusan nafas dari setiap detak jantungku. Ia satu di dalamku, menyatu dalam diriku, menyatu dalam jiwaku. 

Namun, kenyataan selalu berkata pahit manakala aku tersadar dia tidak pernah tahu bahwa aku ada.

Ia mungkin adalah kekaguman bagiku, namun aku tetaplah aku baginya. Ia mungkin adalah khayalan terindah untuk dapat ku miliki, namun aku hanyalah aku baginya. Ia mungkin adalah puncak tertinggi dalam setiap impian kisah cintaku, namun aku bukanlah aku yang akan menjadi bagian dari kisahnya. Ya, karena aku hanyalah aku dalam pandangnya. 

Baginya, aku adalah seorang anak kecil pengganggu. Aku hanyalah seorang anak kecil yang akan terus membuatnya jengkel setiap kali ia bertemu denganku. Aku hanyalah seorang anak kecil  yang tidak mampu bersikap manis layaknya seorang gadis bahkan aku cukup kasar dalam setiap perkataanku untuknya. Baginya, aku hanyalah seorang teman, hanya seseorang yang ia kenal. Aku hanyalah aku yang seperti itu dalam setiap pikirnya.

Aku ingat saat itu. Kala itu pertemuan pertamaku dengannya. Kami belum saling mengenal. Aku hanya sekilas menatap dan memperhatikannya. Saat itu, belum ada hal yang berarti. Pertemuan pertama kami hanya sebatas tatap.

Dua tahun kemudian, kami bertemu lagi. Kala itu ada pertemuan dari perkumpulan muda-mudi yang kami ikuti di daerah kami. Dia adalah teman dari seorang abang yang ku kenal. Saat itu, aku dikenalkan dengannya. Itu adalah awal perkenalan kami. Hanya pernyataan singkat yang menjelaskan hal-hal awam tentang diri masing-masing sambil sesekali diselingi senyum sekilas, lalu berjabat tangan. Itu adalah pertama kalinya kami berjabat tangan. Tangannya hangat namun telapaknya berpeluh sama sepertiku.

Ia lalu mengantarku pulang. Sekadar perkataan singkat yang terucap darinya sepanjang jalan, selebihnya hanya diam yang banyak terjadi. Ya, itu adalah pertama kalinya. Belum ada hal yang berarti, bahkan semua terkesan normal saja. Namun, aku merasakan hal yang baik. Entahlah, aku merasa dia orang yang baik. Aku pun memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat.

Setelah itu, dari hari ke hari, kami semakin dekat. Kami sering bersenda gurau saat berkumpul, bukan hanya aku dan dia tetapi juga bersama abang yang merupakan sahabat karibnya. Hubungan mereka jauh lebih dekat dibandingkan denganku, lagipula mereka sesama lelaki. Jadi, sudah pasti akan lebih mudah rasanya dalam berkomunikasi. Terkadang aku iri karena aku seorang wanita, sehingga ada hal-hal yang tidak dapat ku lakukan bersama dengan mereka, seperti menginap bersama, bermain di rumahnya, atau berjalan-jalan ke tempat tertentu dengan mereka.

Hal yang lebih menyakitkan adalah mereka berada dua tingkat di atasku. Mungkin itu alasannya mereka selalu memandangku sebagai anak kecil dan tidak menganggapku sebagai seorang gadis, terutama dia. Aku hanyalah teman dalam percakapan sehari-hari, tempatnya bercerita, seorang adik yang akan terus dipandang lebih muda berapapun usiaku nantinya. Kadang aku berharap bisa satu kelas dengannya. Usia kami memang hanya berbeda satu tahun, namun ia lebih cepat masuk ke jenjang pendidikan. Perbedaan ini menjadi penghalang bagiku untuk bisa masuk ke dalam kehidupannya lebih dalam lagi.

***********************

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Catatan) Sendiri

(Kisah) Pagi Dunia

(Puisi) AKU