(Kisah) Pagi Dunia

Selamat pagi dunia!! Hari ini hatiku cukup bahagia tak menentu. Ku seduh segelas susu dengan air panas. Hangatnya mengusir dinginnya pagi yang ku rasakan. Setelah bersaat teduh, aku mulai menikmati segelas susu hangat itu. Perlahan ku seruput sambil sesekali ku selingi dengan menyantap kudapan ringan yang tersedia di kamarku. Perlahan tapi pasti akhirnya semua habis tak bersisa. Seusai itu, aku pun segera beranjak dari kursi malasku.
Ku regangkan otot-otot tanganku lalu sedikit memutar kepala dan juga pinggang. Ya, anggap saja itu pemanasan. Tadi malam aku tidur cukup larut. Masih terasa berat kepalaku pagi ini karena kantuk yang masih saja terasa. Begitu banyak tugas kantor yang harus ku kerjakan bahkan sebagian ku bawa ke sini. Tapi kini semua sudah selesai. Aku cukup bahagia karena hal itu.
Aku tinggal di sebuah apartemen sederhana. Usiaku baru menginjak usia 21 tahun tepat setahun lalu. Aku sudah bekerja sebagai anggota redaksi di sebuah majalah remaja yang cukup dikenal publik. Aku masih kliah di jurusan Sastra Indonesia dan sudah menginjak semester tujuh.  Ini tahun terakhirku. Aku sudah mulai  menyusun skripsi. Memang rasanya membosankan untuk bekerja sambil kuliah atau sebaliknya tapi aku bersyukur karen aku cukup menikmatinya. Pengalaman luar biasa bagiku ketika aku bisa belajar dan mempraktekan apa yang ku pelajari secara langsung melalui pekerjaanku ini. Ya, cukup menyenangkan.

Tuuuttt...tuuutt.. Terdengar dering telepon genggamku. Segera ku meraihnya dan menjawab panggilan yang masuk.

"Halo..Syalom.." seruku.
"Syalom.. Pagi, Sandra.." serunya.
"Yap. Pagi, Yakub. Ada apa telepon pagi-pagi gini?" tanyaku heran.
"Iya.. Aku mau minta tolong nih! Temenin aku dong hari ini. Aku mau jenguk mamaku di rumah sakit. Aku bingung mau pilih bunga apa." jelasnya.
"Hm? Pagi ini? Jam berapa?" tanyaku.
"Kira-kira dua jam lagi, ya. Aku jemput ke rumahmu. Oke?!" tawarnya.
"Hm.. Iya, deh. Ok! Aku siap-siap dulu. See you, Yakub. Syalom.." kataku.
"See you. Syalom." sahutnya mengakhiri pembicaraan. Panggilan pun terputus. Ku letakan telepon genggamku di atas meja riasku. Ku raih handuk yang tergantung di jemuran yang ada di beranda apartemenku. Aku menuju kamar mandi dengan sedikit malas. Pagi ini sedikit dingin dan agak menyebalkan untuk  mandi sepagi ini.
Selang setengah jam, aku selesai mandi. Setelah itu, aku mulai bersiap-siap. Ternyata butuh waktu satu jam untuk benar-benar siap sepenuhnya. Kini aku duduk di ruang tamu menunggu Yakub datang sambil mendengarkan alunan musik jazz yang menenangkan hatiku. Hm.. Swing.. Swing..

Yakub adalah teman kecilku. Sejak kecil kami selalu bersama. Ini karena mama kami bersahabat cukup dekat sejak masa muda. Selalu ada pertemuan keluargaku dengan keluarga Yakub setiap bulannya. Namun, kini tidak lagi begitu.

Tiga tahun yang lalu, kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu hari Minggu, seusai pulang gereja, kami hendak pergi ke rumah Yakub untuk pertemuan keluarga. Di tengah perjalanan, ada sebuah bus yang melaju kencang. Bus itu lari ke luar jalur dan menabrak mobil kami. Ayahku punya penyakit jantung. Ia langsung terserang jantung. Ibuku pun duduk di depan dan kepalanya menghantam kaca mobil di sebelah kiri. Mobil kami berguling dan terbalik. Aku berusaha menolong orangtuaku namun badanku terasa lemah dan kesakitan. Setelah itu, aku tidak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, aku sudah terbaring di rumah sakit dengan perban di kepala, kaki, dan tangan. Ada Yakub di sisiku beserta tante dan om, ya orang tua Yakub. Mereka menangis tersedu. Yakub memegang tanganku lalu ia mulai berkata dengan isak tangis. Ia memberitahuku bahwa kedua orangtuaku meninggal. Saat itu, rasanya aku sangat terpukul. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis. Tante lalu memelukku dan menciumku. Ia menguatkanku, begitu juga om dan Yakub. Mereka berjanji tidak akan meninggalkanku sendiri. Mereka berjanji menjagaku dan itu benar hingga kini mereka tetap ada untukku.
Aku adalah anak tunggal. Aku kini hidup sendiri. Aku tinggal di apartemen ini sendiri. Dulu, ini apartemen yang papa siapkan untuk ku tempati saat aku sudah bekerja. Rumah kami yang dulu tidak jauh dari rumah Yakub. Sesekali aku pulang ke rumah jika aku berkunjung ke rumah Yakub. Kini aku sudah bisa menerima kenyataan dengan baik. Aku bersyukur bisa mengenal keluarga Yakub dan dikasihi oleh mereka semua.  Tuhan itu baik dan selalu baik. Aku percaya ada rencana Tuhan  yang indah di balik ini semua.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Catatan) Sendiri

(Puisi) AKU