(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian II)
Berbicara
tentang pengalaman manis, begitu banyak hal indah yang terjadi dalam
kebersamaanku dengannya. Tak banyak memang yang mampu ku ucap namun semua
begitu jelas ku rasa.
Hubungan
kami memang sebatas pertemanan biasa, namun bisa dibilang kami cukup dekat saat
itu. Dia adalah sosok pria yang terkesan dingin, karena dia lebih sering diam
dan irit dalam berkata. Dia juga memiliki ekspresi yang unik. Dia lebih sering
mempertahankan wajah datarnya dalam kondisi apapun.
Hal ini bukan berarti dia tidak ramah. Dia sangat ramah, bahkan pribadinya begitu hangat bagi orang-orang di sekitarnya. Dia seorang penyayang, senang memerhatikan, dan peduli terhadap masalah yang dialami orang-orang di sekitarnya. Dia tidak segan untuk membagi-bagikan kasihnya. Bagiku, itulah kelemahannya. Dia terlalu baik. Karena kepribadiannya itu, semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya. Terlebih lagi dia memiliki tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Aku belum pernah bertemu dengan lelaki seperti itu sebelumnya.
Sejauh
pengenalanku tentangnya, dia sering menahan dirinya untuk marah dan melupakan
kekesalan yang seharusnya dia rasakan. Sedikitpun emosinya tidak pernah
meledak sampai akhirnya aku berbuat suatu kesalahan. Aku sangat terkejut. Itu
adalah kali pertama aku melihatnya begitu marah. Sebelumnya, aku terbiasa
untuk selalu berusaha memancing amarahnya. Dulu, aku dan temanku sering kali
menjadikannya sebagai bahan candaan. Itu karena dia tidak pernah tersinggung dengan
kami, bahkan ikut tertawa bersama. Dia cukup sabar hingga akhirnya kejadian itu
terjadi.
Boleh
dibilang kejadian ini adalah kejadian yang tak akan aku lupakan. Aku selalu
penasaran bagaimana bisa ada seseorang seperti dia yang dapat mengontrol emosi
dengan baik, terlalu sabar, dan membalas ejekan dengan senyum dan tawa. Aku
sangat penasaran apakah dia memang tidak memiliki ekspresi marah. Namun, saat
itu aku sedikit keterlaluan.
Kami bertiga
sudah saling berpisah ketika itu. Dia melanjutkan kuliahnya dan tinggal jauh
dari rumah. Sementara, teman kami melanjutkan kuliah di pulau seberang, kembali
ke kampung halamannya. Kami terpisah namun aku tetap berusaha menjaga
komunikasi dengan mereka.
Aku memiliki akun pada suatu situs pertemanan di
jejaring sosial yang kala itu baru berkembang. Suatu hari, aku membuat candaan dengan
meledek mereka berdua sebagai pasangan. Saat itu, aku tidak bermaksud apa-apa. Sebelumnya,
aku sering melakukannya. Itu karena mereka sama-sama tidak memiliki kekasih, selalu
bersama, dan sangat akrab. Dulu, dia menanggapinya dengan tawa lalu balik
mengejekku, bahkan sesekali mereka mengiyakan ejekanku, namun kali itu berbeda.
Dia begitu marah. Aku pun berulang kali meminta maaf, bahkan aku langsung
menghapus candaanku yang keterlaluan. Sejak itu, aku sadar bahwa dia pada
dasarnya sama seperti kami. Dia manusia biasa yang memiliki emosi di dalam
dirinya. Dia ternyata juga bisa marah dan sejujurnya aku lebih takjub akan hal
itu. Haha.
Seiring
berjalannya waktu, kami semakin terpisah. Dia semakin sibuk dengan kuliahnya.
Sejak dia tinggal jauh, segalanya menjadi sulit. Intensitas pertemuan
yang sangat jarang dan sulitnya berkomunikasi membuat hubungan kami menjadi
renggang, ditambah lagi aku sempat membuatnya marah (haha). Pada dasarnya, aku
takut untuk memulai lagi. Aku juga merasa bersalah karena pernah membuatnya
marah. Setiap mengingat kejadian konyol itu, aku akan sibuk memarahi diriku
sendiri. Aku juga takut kalau nantinya aku malah mengganggunya lagi. Aku lebih
sering tidak berani untuk memulai percakapan.
Saat itu,
kami hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan jejaring sosial. Aku hanya
bisa menunggu sampai dia muncul sehingga aku dapat mengetahui keberadaannya.
Aku hanya bisa mengamati dan memperhatikannya dengan cara seperti itu.
Kami sempat bertemu setelah beberapa bulan dia pergi. Senyum tidak dapat ku sembunyikan dari wajahku. Dia juga tetap ramah seperti biasa. Kali ini dia menjabat tanganku dengan kekuatan penuh yang membuatku meringis kesakitan. Dia tertawa cukup senang melihat ekspresiku yang tidak karuan. Aku pun ikut tertawa. Aku merindukan waktu itu, saat komunikasi kami masih belum terasa jauh.
Kami saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Sayangnya, waktu
tidak cukup berpihak. Hanya sebentar rasanya karena dia harus
kembali pergi. Namun, hari
itu aku kembali membuat suatu kesalahan. Aku mengakhiri percakapan dengan saran
terbodoh yang terus aku sesali hingga saat ini, bahkan mungkin seumur
hidupku.
Aku
menyarankan agar dia mencari seorang kekasih supaya dia tidak merasa kesepian
lagi di sana. Dia hanya tertawa dan mengatakan tidak saat itu. Kebodohanku lalu semakin
menjadi ketika aku kembali meyakinkannya. Dia menanggapi hal itu dengan
tersenyum. Setelah itu, kami pun berpisah. Dia kembali ke asrama lalu
aku pulang ke rumah. Sepanjang jalan batinku resah dan rasanya perih. Kenapa
aku harus mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kenapa aku tidak menunjukan
perasaanku? Kenapa aku malah terus bersikap munafik?
Pertanyaan
terakhir yang terlintas kemudian, berhasil menusuk hatiku,
“Bagaimana
jika nantinya ia benar-benar menjalin hubungan dengan seorang gadis di
sana?"
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
Aku pun
hanya bisa terdiam.
**********
Komentar
Posting Komentar