(Kisah) Tanpa Jeda (Bagian IV-Tamat)
Bekasi, 01 Juli 2018
Waktu
berlalu cepat, namun bayangmu tetap melekat
tak
jua jauh tuk terus terlihat, keutuhan yang terlanjur merekat
Apalah
arti mau atau tidak, diriku tak acuh akan sekat
Yang
ku tahu, roman wajahmu masih jelas ku ingat
Sembilan tahun sudah perjalanan kisah ini. Tidak
terasa, ya?! Bagiku, waktu itu cukup unik. Terkadang dia mengendap-endap
seperti pencuri kemudian tak jarang dia terbang bebas melesat jauh di udara.
Dia mampu bergerak cepat, perlahan, atau pun berhenti sesuai keinginan hatinya.
Yang lebih hebat lagi, tak ada satu pun mahluk di muka bumi ini yang mampu
menguasainya. Benar-benar merdeka dan berkuasa melebihi seorang raja, bahkan
lebih menakutkan dari dinosaurus terganas yang diceritakan oleh para arkeolog
tersohor itu. Siapa yang tidak merasa terancam ketika waktunya mulai menggeram?
Banyak jiwa yang takut dan tak luput dari serangannya, begitu pun aku.
Aku begitu takut
jika kesempatan yang diberikan oleh waktu benar-benar habis dan memudar. Aku
sangat takut dengan penyesalan. Lebih bodohnya lagi, aku takut kabar ikatan
janji sehidup semati yang mungkin akan segera terdengar darinya. Dia yang ku
sebut ciptaan indah Sang Kuasa yang pernah ku nikmati dari dekat.
Aku tau jodoh tak
ada yang tahu namun aku tetap logis. Aku ini wanita dan usiaku terus bertambah.
Aku sering berpikir mungkinkah ia yang akan lebih dulu menikah atau justru aku?
Lalu, kalau tidak berjodoh bagaimana? Sanggupkah aku hadir dan memberi selamat teriring
doa bukan luka atau duka? Aku tidak tahu namun diriku masih sibuk
mempersiapkannya. Segala kemungkinan yang dapat terjadi, mulai dari hal logis
hingga pemikiran-pemikiran di atas ambang wajar.
Pernah sekali aku
berkelakar dengan seorang rekan ketika ditanya perihal jodoh atau tidak. Dengan
enteng ku katakan, “Mungkin kalau dia sudah menikah, aku akan pindah ke luar negeri
sampai hatiku pulih atau mungkin juga aku tak akan kembali..”
Tawa rekanku pun
pecah disertai kekehanku dengan mimik geli tak karuan. Ya, berusaha membuat
pertanyaan semacam itu menjadi guyonan tentu tak mudah. Ada hati yang harus
dibohongi namun begitulah memang yang ku rasakan.
Masih terasa jelas pertemuanku saat itu dengannya. Tahun 2008. Saat duniaku terpuruk dan berputar
180 derajat. Kehadirannya berhasil membalik duniaku yang dirundung duka dengan
membawa secercah cahaya yang memberi harapan. Jiwa ini kembali merasa bahwa impian itu ada dan menjadi keindahan bagi
setiap insan. Kau menembus segala ketidakmungkinan dan sikap pesimis yang sudah
bertahun-tahun menyerangku. Senyumanmu menawar duka dan luka menjadi tawa
bahagia. Hingga
akhirnya, setahun kemudian, rasaku berubah menjadi jauh lebih dalam.
Terima kasih. Aku
belum sempat mengucapkannya. Terima kasih untuk setiap kata yang pernah kau
tuturkan. Kalimat sederhana yang membuatku mengerti bahwa hidupku juga berarti.
Kalutku telah kau balut.
Jika saja kau tak
datang, mungkin saat itu air mataku sudah tumpah ruah dan mungkin aku hilang
arah. Namun, engkau memilih datang, menghampiriku, dan mengulurkan tanganmu.
Terima kasih sudah menolongku.
Kalimat sederhana
yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, terlontar manis dengan rasa
peduli yang jujur tanpa reka. Aku bisa merasakan ketulusanmu saat kau mengatakannya,
“Lo kenapa?” tanyanya penasaran.
“Haha. Nggak papa. Kenapa
emang?” ucapku memaksa tawa. Air mataku sedikit menggenang.
“Udah, sih bilang aja..” katanya
sok paham.
“Lah, emang nggak papa, kok....”
sahutku lagi.
“Lo pulang sama siapa? “
tanyanya malam itu.
“Belum tau, nih..” sahutku
singkat.
“Ayo, balik bareng gua..”
katanya mengajak. Aku mengangguk dan kami pun pergi.
Sepanjang jalan aku
mendengarmu tak henti berceloteh. Terus menerus menginterogasi berusaha
memahami apa yang sedang ku sembunyikan. Luka menganga itu ternyata mampu kau lihat.
Sekali lagi kau buatku
tersenyum saat kau menyatakan protesmu dengan nada sedikit kesal, “Kalau ada
masalah tuh cerita, kalo nggak cerita nanti jadi gila lo!” katamu mengancam.
Tawaku seketika
meledak dan kau pun semakin berusaha lebih jauh menekanku untuk mengungkapkan. “Ya, Tuhan, dia unik”, batinku malam itu. Kau benar orang yang
baik. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu.
Aku pun akhirnya tak
tega. Sedikit saja ku buka cerita. Dia pun menggangguk paham. Aku rasa dia
mencoba menafsirkan dengan hatinya. Ia melibatkan emosinya setiap memberikan
nasehat. Ia berusaha merasakannya. Aku kembali tersenyum. Maaf, tak sepenuhnya semua
dapat ku katakan. Aku tak ingin semua cerita yang telah lama membungkam rapat menjadi tontonan banyak orang. Namun, terima
kasih. Engkau peduli. Itu pertama kalinya bagiku untuk merasakan kepedulian
dari orang lain. Pertama kalinya ada yang bertanya apa yang ku rasakan. Pertama
kalinya ada seseorang yang menawarkan diri untuk mendengarkan. Aku tersentuh.
Sejak itu, aku
berusaha menjadi lebih jujur. Aku mulai belajar untuk percaya dan berbicara dengan
orang banyak namun tetap dengan sikap curiga dan waspada. Rasanya lebih lega
setelah aku mampu mencurahkan isi hatiku kepada orang lain. Tidak semua orang
memang, tetapi setidaknya aku merasa
beban itu sedikit berkurang. Otakku bisa bernafas dan hidupku mulai berwarna.
Aku semakin bersosialisasi dan mendapatkan begitu banyak rekan-rekan yang baik.
Aku bersyukur untuk langkah awal yang membawaku pada kebahagiaan melalui
pertemuanku denganmu. Hidupku kini dikelilingi orang-orang yang berpikir
positif, tak hanya memotivasi namun juga menginspirasi.
Aku sering berpikir,
jika saja saat itu aku tak bertemu dengannya, apakah aku bisa menjadi lebih
terbuka seperti saat ini? Entahlah, yang jelas aku bersyukur. Masa kelam itu
sudah berlalu. Aku bersyukur. Kekagumanku bukan tanpa alasan. Semua yang ku
alami bersamamu adalah yang pertama kali dan itu sangat berkesan. Pertama kali
aku menemukan pria yang begitu sabar sepertimu. Pertama kali aku berani untuk
berbagi cerita. Pertama kali aku merasakan arti peduli. Pertama kali aku
menerima sikap jujur yang tak membuatku khawatir. Aku beruntung.
Terima kasih, kau
menjadi penyemangat yang hebat dalam setiap kejatuhan bahkan keterpurukanku
selama beberapa tahun. Ya, walau kini, kita tak lagi bertemu, hatiku tetap
mengingatmu. Kehangatanmu berhasil menenangkan banyak orang di sekelilingmu.
Tak heran jika aku juga menjadi bagian dari mereka yang mengagumimu.
Kekagumanku mungkin
tak akan luntur ditelan waktu. Kau menjadi bagian dari sejarah hidupku yang
membawa perubahan bagi diriku untuk menjadi lebih baik lagi. Terima kasih
banyak untuk selalu menginspirasi dan memotivasi. Dengan sungguh, aku mengikhlaskan
hati. Doaku senantiasa mengiringi, kiranya dirimu menemukan kebahagiaan bersama
tambatan hati. Tuhan memberkati.
Komentar
Posting Komentar