(Kisah) Awan dan Hujan

Untukmu yang ku kagumi dalam diam,
tanpa suara,
hanya mata yang mampu menatap punggung..

Halo, apa kabar?
Sudah lama aku tak mendengar keberadaanmu.
Bagaimana hari-harimu?
Apa kau makan teratur?
Apa kau menjaga kesehatanmu dengan baik?

Bagaimana juga dengan tugasmu di kantor?
Apakah begitu banyak?
Apakah ada masalah yang kau hadapi?
Apa kau ingat untuk bahagia setiap harinya?
Aku harap semua baik-baik saja.
Aku harap kau selalu bahagia.

Bagaimana dengan waktu luangmu?
Apa yang sering kau lakukan?
Masihkah kau menikmati hobimu yang dulu?
Bagaimana dengan anjing kecilmu?
Masihkah kau memeliharanya?
Aku harap kau dapat menikmati waktu luangmu dengan menyenangkan.

Oh iya, bagaimana dengan motor itu?
Tempat kita dulu saling berbagi cerita sepanjang jalan. Haha.
Masihkah kau menyimpannya?
Aku sesekali rindu untuk duduk di sana.

Bagaimana dengan cerita-cerita lucu itu?
Masihkah kau ingat setiap hal yang membuat kita tertawa?
Aku masih ingat lelucon bodoh yang sering kita tertawakan.
Sering aku tersenyum sendiri setiap mengingatnya.

Bagaimana juga dengan hujan?
Masihkah kau menyukai hujan?
Masihkah kau menikmati setiap tetesnya?
Sepertinya kau benar,
hujan itu tidak begitu buruk.
Tahukah kau?
Kini aku tidak lagi membenci hujan.
Aku rasa hujan tidak selalu menyajikan kesedihan.
Buktinya aku selalu tersenyum saat hujan turun.
Hujan selalu berhasil membangkitkan kenanganku tentangmu.
Semoga kau baik-baik saja di sana dan selalu dalam lindungan Tuhan.
Semoga kita dapat bertemu suatu hari nanti, entah besok, lusa, atau hari yang akan datang.
Aku akan menunggumu di sini bersama dengan hujan. 


Jakarta, 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Catatan) Sendiri

(Kisah) Pagi Dunia

(Puisi) AKU